salam Minsuners

annyeong haseyo minsuner...
ini adalah Blog untuk melihat pict or fanfic tentang minsun..
MinSun (lee min ho and Koo hye sun)

Gamsahamnida buat kunjungan ke blog ini..

jika mampir, jangan lupa koment or follow blog ini...!! ^_^

Jumat, 29 April 2011

fanfic minsun/crazy duck/part 14


Crazy duck part 14
Cast
Lee min Ho as Lee min Ho
Goo hye Sun as Goo hye sun
Choi si won as park hyun joo
Yoon eun hye as Goo yoon ah/yoona
Kim so eun as kim so eun
Kim bum as kim bum


Perasaanku entah kapan jadi seperti ini?, mengapa aku begitu bodoh.. tentu saja orang sepertimu bisa melakukannya dengan mudah.

  “ya... sun-a...!!, kau mau kemana?, pergi begitu saja, tanpa mempertanyakan perasaanku?”

  “untuk apa bertanya lagi?, aku sudah tahu..kau menyukainya kan?”

  “MWOO?, DIA?, SIAPA?”

  “sudahlah jangan belagak bodoh.. sepertinya kalian saling menyukai?”

  “aisshhh.... dasar BEBEK SINTINGGGGG...................!!!!!!!!!!, jangan membuat aku bertanya terus, aku sungguh tak mengerti pembicaraanmu”

  “kau dan jessica..”

  “ada apa dengan kami..?’

  “kau suka DIA kan?”

  “MWOOOO.......?, jadi dari tadi aku bicara... kau memikirkan ini...?, aiissshhh.... kapan ya... kau bisa melihatku dengan baik?”

  “apa maksudmu?”

  “orang yang aku sukai sekarang itu ya...kamu...ORIIIIIIII..........!!!!”
Hye sun kaget mendengar pengakuan mino, jadi yang dipikirkan tentang mino itu salah, dia mengira mino tengah menyukai jessica. Wajah hye sun bersemu merah mendengar pengakuan mino


  “jadi kau tak dapat melihat perlakuanku terhadapmu selama ini?”

  “mwo..?, tapi ketika pengambilan scene terakhir, kau dan jessica terlihat penuh penghayatan?, nampak seperti nyata”

  “kau lupa aku ini siapa?”

  “aniyo..” jawab hye sun lemas

  “jadi apa yang harus ku lakukan supaya kau sadar?”

Hye sun hanya bisa terdiam.
Mino sudah habis kata untuk menjelaskan bagaimana perasaannya terhadap hye sun, entah kenapa mino tiba-tiba mendaratkan ciuman di bibir mungil hye sun, mata bulatnya seperti biasa hanya bisa melebar.. menciuminya dengan kasar.


Lee min ho
Rasakanlah... rasakan semua yang kuberikan padamu, kumohon mengertilah.. apa maksud dari tindakanku ini.. sebelum kau mengerti aku tak akan melepaskanmu. Mengapa kau berfikir aku menyukai orang lain?, kau betul-betul bodoh.

Goo hye sun
Lagi-lagi kau bertindak sesuka hatimu.. tanpa bertanya dulu padaku..aku pernah merasakan ini.. tapi kali ini ada yang berbeda, apa kau sedang marah padaku?

Mino tak henti membuat hye sun terpaku dengan tindakannya itu..namun perlahan mata hye sun mulai meredup, menerima ciuman dadakan mino.. kini mata keduanya terpejam rapat.. sepertinya mereka sudah tak bisa mengendalikan perasaan masing-masing, akal sehat sudah tak bisa bekerja dengan baik, terbawa emosi..

3 menit berlalu.
Napas tersengal-sengal diantara mereka, wajah hye sun benar-benar merah, ia hanya bisa tertunduk malu.. mino masih menatap wajah hye sun. Sambil berkata

  “yaa.. ada apa denganmu?, apa kau tak berani menatapku?”

  “aniyo..” jawab hye sun masih tertunduk malu

  “lihat aku!”

  “aniyo... kau terlalu memaksa..”

Hye sun kemudian segera mencubit lengan mino, karena bingung harus berbuat apa.
Dan mengucapkan beberapa kata sebelum meninggalkan mino.

  “mino-a.. jangan lupa janjimu..!”
Hye sun kemudian pergi.. wajahnya nampak berseri, mengingat kejadian barusan, hye sun tak hentinya memegang kedua pipinya yang masih terasa panas..

Keesokan harinya
Syuting sudah berakhir kemarin sore, mino memanfaatkan waktu untuk membantu hye sun membongkar siapa Mrs. Joon sebenarnya, mino sengaja mengundur kepulangannya ke seoul, hanya untuk membantu hye sun. Mrs. Joon yang kini tengah menetap di jepang juga mempermudah mino dan hye sun. Minsun berencana mengundang Mrs. Joon untuk makan siang. Sebelum esok ia dan hye sun harus kembali ke korea. Dan tawaran itu di terimanya. Sebuah cafe yang cukup mewah dipilih mino, karena mengingat mereka harus waspada dengan wartawan atau para fans.. dan ini adalah tempat yang tepat. Sambil menunggu kedatangan Mrs. Joon atau yang lebih tepat bernama Joon hyun soon. Mino sudah dari tadi memesan sesuatu tapi ia sengaja menyuruh pelayan untuk mengantarkannya setelah mrs. Joon datang. Mino mencoba menenangkan hye sun yang sudah mulai nampak panik. Beberapa menit lamanya menuggu kedatangan Mrs. Joon, akhirnya dia datang juga.. sepertinya ia sedikit ragu karena melihat hye sun. Mencoba melarikan diri dari kenyataan, namun tak mungkin ia akan pergi begitu saja.. ia pun menyapa minsun.


  “annyeong.. minho-ssi!!”
Melihat Mrs. Joon telah datang minsun pun menyambut hangat kedatangan Mrs. Joon.

  “annyeong Mrs. Joon... mian... saya menggambil waktu anda”

  “aniyo.. saya tak mengerti dengan undangan makan siang ini, anda ada kepentingan apa mengundang saya makan siang?”

  “saya tahu anda pasti heran, tapi saya tak akan bertele-tele...”
Di sela-sela perbincangan mereka, seorang pelayan datang membawa hidangan makan siang yang telah dipesan mino.

  “maksud saya mengundang anda untuk mempertanyakan suatu kebenaran”

  “kebenaran apa?”

  “anda pasti kenal perempuan yang di samping saya ini” ucap mino sambil menoleh ke hye sun

  “ya.. saya baru beberapa hari lalu mengenalnya.. dia manager anda kan?”

  “ne.. dia memang manager saya, tapi bukan itu maksud dari pembicaraan saya”

  “lalu apa?”

  “maaf jika saya terlalu lancang mencampuri urusan anda, tapi saya sudah tak bisa diam terus..”

  “mian.. jika saya memotong pembincaraan anda mino-ssi, tapi saya tak berniat membahas ini”

  “saya mohon dengarkan yang saya ingin katakan...”

  “aisshh...” Mrs. Joon nampak bingung

  “saya mohon dengan sangat Mrs. Joon....” pinta mino dengan rasa yang amat memelas, hye sun hanya bisa tercengang melihat mino yang begitu ingin membantunya, dan usahanya berhasil.

  “terserah anda saja...!”

  “gamsahamnida....!” ucap mino lega

  “sun-a.. sekarang kau bisa.. ungkapkan semua yang kau rasakan” lanjut mino, seolah memberi waktu hye sun untuk bicara berdua dengan Mrs. Joon, dan ia sengaja pergi menjauh.. agar hye sun leluasa bicara.. hye sun mencoba angkat bicara.

  “hm,,hm..” batukan kecil sengaja di keluarkan hye sun.. agar ia tak merasa canggung.

  “ada apa agashi?” tanya Mrs. Joon membuyarkan hye sun dalam diamnya

  “Mrs. Joon... mianhae... jika saya mengambil waktu anda.. tapi saya yakin anda tahu apa maksud dari undangan ini, karena sebelumnya kita pernah sempat bicara..”

  “jika yang ingin kau katakan adalah itu.. jawabannya adalah tidak”

  “anda tak bisa mengelak lagi Mrs. Joon, karena sekarang saya benar-benar tahu siapa anda...”

  “lalu apa maumu jika kau sudah tahu aku ini siapa??” tanya Mrs. Joon sedikit berteriak pada hye sun

  “saya mau mendengar.. anda mengakui saya sebagai anak”

  “cihhhh....” tawa kecil mengejek terlihat jelas dari sudut bibirnya

  “kenapa??, anda keberatan?”

  “tentu saja.. aku tak mungkin mengakuimu sebagai anakku, siapa yang tahu kalau kau hanya seorang penipu...? mengaku sebagai anakku”

  “mwoooo?, jadi anda berfikir saya hanya berbohong?, untuk apa?”

  “tentu saja untuk menghancurkanku”

  “pikiran licik apa itu...?”[hye sun]

  “seharusnya kata itu kau tujukan untuk dirimu!!” cetus Mrs. Joon pelan tapi terlihat menekan

  “kau benar-benar berubah..!, jika ku tahu seperti ini jadinya.. aku tak akan...” kata-kata hye sun terhenti

  “simpan semua tangismu... aku tak ingin melihat itu”

  “omma...!!” sebutan itu membuyarkan pikiran Mrs. Joon. Mata bulat Mrs. Langsung membelalak kaget

  “aniyo... tentu saja sebutan itu hanya akan menjadi mimpi bagiku...” lanjut hye sun seolah menyadarkan dirinya

  “Mrs. Joon.. jika kau tak mau mengakui aku dan onnie sebagai anakmu, paling tidak... kau harus tahu.. 2 hari lagi yoona onnie akan bertunangan.. kau tak tahu betapa bahagianya dia.. apalagi jika aku berhasil membawa kado terindah yang sangat dinantikannya, yaitu membawamu ke hadapannya, tapi sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa, aku sekarang merasa menjadi dongsaeng yang tak berguna.. aku telah gagal...!” tutur hye sun lemas
entah apa yang kini merasuki pikiran Mrs. Joon hingga masih tetap berkutat dalam egonya, apakah sebuah harta benda telah memusnahkan nalurinya sebagai seorang ibu..?, membiarkan sepasang bola mata itu menitikkan air mata, jelas terlihat di depan matanya. Sepasang bola mata yang mirip dengan bola matanya. Mrs. Joon merasa sangat bersalah..

**jika bukan karena beban yang dipikulnya.. pasti ia akan mengatakan pada hye sun,

“bahwa aku sangat bahagia bisa melihatmu lagi.. aku menyesal meninggalkan kalian.. aku
ingin memelukmu, anakku.. aku ingin menghapus air matamu.. ingin ku katakan datanglah kepelukanku..!, karena aku ibumu...!” itulah pikiran yang entah sejak kapan membuat seorang Mrs. Joon merasa sangat bersalah, karena tak bisa mengakui hye sun sebagai anaknya**


  “pembicaraan ini hanya membuang waktu saja” tutur Mrs. Joon tiba-tiba, namun sempat tertangkap oleh hye sun.. sepasang bola mata Mrs. Joon, ingin meluap keluar..

  “apa sudah tak bisa lagi...?” teriak hye sun yang kini berdiri terpaku di tempatnya.. Mrs. Joon tak tahan melihat hye sun seperti itu.. ia pun pergi tanpa pamit..


  “omma...” panggil hye sun, namun itu tak memberhentikan langkah Mrs. Joon


  “ommmaaaaaaaaaa..................!!!!!!!!!!” panggilan itu terdengar lagi, dan juga tak memberhentikan langkah Mrs. Joon. teriakan histeris dari hye sun mulai menyadarkan mino yang sedari tadi meniggalkan mereka berdua, tangisan hye sun terdengar memilukan.. tersayat-sayat rasanya.. hye sun kehilangan kestabilannya, tubuhnya ambruk... tapi mino dengan sigap langsung menopang tubuh mungil hye sun..


  “yaa... sun-a...!!, kau tak apa-apa?” tanya mino.
Dan tentu saja tak ada jawaban

Hye sun hanya bisa menangis.. meratapi keadaannya, kemana hye sun yang tegar?, itu kata yang ingin diucapakan hye sun pada dirinya, tapi nampaknya kata-kata itu tak berlaku untuk saat ini.. mino terus mencoba mengguncangkan tubuh hye sun

  “yaa.. sun-a... gwenchana?, apa yang Mrs. Joon katakan hingga membuatmu seperti ini?”
Tak ada jawaban lagi.. hye sun hanya bisa menangis.. posisi mino yang memeluk hye sun dari belakang, kini berubah.. hye sun membalikkan tubuhnya.. dan dengan sigap memeluk tubuh mino dengan eratnya.. ia tak ingin mino bertanya lebih lanjut.. mino juga mengerti itu.. ia kini hanya bisa mengusap lembut rambut pendek hye sun. Membiarkannya dalam posisi seperti itu. Membiarkannya menangis sejadi-jadinya, untung restoran itu masih terlihat sepi.. karena restoran yang dipilih mino adalah restoran mahal yang tak mungkin dikunjungi oleh orang biasa.. hanya orang tertentu saja yang akan makan di tempat itu.
Setelah berkutat dalam posisi yang sama, selama beberapa menit.. akhirnya hye sun mulai membaik.. suara tangisan mulai mereda.. mino yang menyadari itu mulai bertanya lagi.

  “sun-a.. apa kau sudah baikan?”

  “ne.. gomawo mino-a..!” tutur hye sun lembut dengan suara yang masih terdengar parau

  “sebaiknya sekarang kita kembali ke penginapan”

  “ne... gomawoyo mino-a, aku sangat berterima kasih, meskipun akhirnya bakal seperti ini” tutur hye sun sekali lagi, sehingga membuat mino terkesima dengan pandangan memelas hye sun. Sebuah kecupan hangat didaratkan mino di kening hye sun.. lama dan sangat dalam, hingga membuat mata hye sun terpenjam rapat.


Setelah berada di depan pintu kamar penginapan hye sun

  “kau yakin..?”

  “ne..!!, aku sudah mendingan.. gomawo mino-a untuk hari ini”

  “dari tadi kau hanya bisa bilang terima kasih terus.. telingaku jadi panas..” ucap mino
untuk mencairkan suasana

  “yaaa... lalu kau ingin aku bilang apa?”

  “hehehe... jujur saja aku senang dengan kata-kata itu, tapi apakah tak ada kata yang lebih menyenangkanku?, atau paling tidak perbuatan yang bisa ku ingat saat kembali ke korea nanti?”

Hye sun berfikir sejenak, lalu mengangkat tangannya, mengelus pipi mulus mino.. menatap tajam mata mino.. hye sun yg tidak suka mengenakan sepatu hak tinggi, dan itu membuatnya harus berusaha keras mendekatkan wajahnya dengan wajah mino. Sepasang kaki berjinjit.. hye sun mengecup lembut bibir mino, mino yang menerima perlakuan itu.. tak berkutik.. matanya membelalak lebar.. tak pernah menduga kalau hye sun akan melakukan itu padanya.., kecupan singkat yang diberikan hye sun.. belum saja mino tersadar dari perlakuan hye sun itu.. hye sun malah sudah mengakhiri ciuman itu, hendak meninggalkan mino sendirian, memasuki kamarnya.. tapi setelah sadar dari keterkejutannya, mino mengikuti hye sun masuk dan langsung menarik lengan hye sun.. dan membawanya kepelukannya, menggenggam erat kedua pipi hye sun.. melanjutkan ciuman singkat yang diberikan hye sun padanya.. , bibir padat mino menyapu bersih bibir mungil hye sun, seluruh bibir hye sun tenggelam dalam lumatan bibir mino.. ciuman itu agak sedikit memanas antara minsun.. kecupan demi kecupan terus didaratkan mino di bibir mungil hye sun.. matanya terpejam rapat, desahan nafas terdengar jelas dari keduanya.. entah mengapa.. hye sun merasa kesedihan yang sempat melandanya.. hilang begitu saja.. ia memang tahu dengan jelas.. hanya dengan mino ia bisa merasakan seperti ini.. merasakan suatu kehangatan.. kehangatan yang tulus diberikan mino untuknya.., meskipun 2 menit berlalu.. tapi rasanya ada yang hilang, ketika ciuman itu berakhir hanya gara-gara suara sesuatu jatuh dekat dengan pintu kamar hye sun.

****
Suara itu mengagetkan minsun.. hye sun mendorong tubuh mino kebelakang.. melihat keadaan sekitar, di sana hanya seseorang dengan tampang bersalah

 “mianhae... saya mengganggu anda..”

  “gwenchana....” jawab hye sun ramah

  “ada apa ajushi?”[hye sun]

  “saya kesini untuk mengambil pakaian kotor agashi...”

  “oh.. ne...” hye sun kemudian segera berlari menuju tumpukan pakaian kotor miliknya, segera menyerahkan pakaian itu pada seorang pelayan di penginapan itu..  mino yang agak sedikit terganggu dengan kehadiran laki-laki tua itu, hanya bisa memanyunkan bibirnya pada laki-laki tua itu..

  “ini ajushi... mianhae.. terlalu banyak”

  “gwenchana..”

  “mian dhore-nim.. mengganggu acara anda..” lanjut laki-laki tua itu

  “yaa... ajushi tak perlu seperti itu..” jawab hye sun

  “mwo?, dia pantas minta maaf.. dia sudah mengganggu kita..”

  “yaaa... mino-a.. kau sangat tak sopan..!, dia tak bermaksud mengganggu.. cepat minta maaf padanya”

  “mwo... untuk apa aku minta maaf..?”

  “DHOOO........!!” hye sun sedikit jengkel dengan sifat kekanak-kanakan mino

  “araseo... sun-a..”

  “mian..!” tutur mino pada laki-laki tua itu, singkat sekali

  “ne.. dhore-nim.. saya yang salah..”

  “sudahlah ajushi.. anda boleh pergi”

  “gomawo agashi..!”

  “cheonmaneyo..!!”
Laki-laki tua itu akhirnya pergi.. selepas kepergiannya, hye sun langsung menoleh ke mino

  “yaa... perilaku apa itu?, kau sangat tak sopan terhadap orang yang lebih tua..?”

  “mwo..?, kau menyalahkan aku?, dia sudah mengganggu kita”

  “buang sifat kekanak-kanakanmu!!”

  “ye.. ye.. mianhae..!”
Minsun terdiam sesaat, lalu..

  “we...? yaaa... lee min ho.. kenapa kau masih ada disini..?, sampai kapan kau akan di sini?”

  “mwooo?, kau mengusirku?”

  “sudah keluar sana... aku mau mandi.. aku sangat lelah..!”

  “araseo...!, aku akan keluar.. tapi sebelumnya aku mau bilang..”

  “we?”

  “saranghae...!” terdengar sangat lembut di telinga hye sun.. setelah itu dengan cepat mino mendaratkan ciuman di pipi hye sun.. kemudian keluar sambil memasang senyum lebarnya.

  “ya.. mino-a..!” hye sun agak sedikit berteriak

****

Setelah berendam cukup lama.. hye sun akhirnya keluar juga dari kamar mandi.. dia betul-betul merasa sangat fresh.. bukan saja badannya, tapi pikirannya juga ikut fresh.. sempat terlupakan kejadian tadi siang.. sebuah handuk membalut tubuh mungil itu.. hye sun berjalan menuju kasur tempatnya tidur.. memperhatikan sebuah handphone genggam berwarna merah dengan motif bunga-bungaan. Ia pun meraihnya dan menekan sebuah nomor..

  “tuuuuutttttttttttttt........” belum ada sahutan dari seberang sana, setelah beberapa detik, akhirnya terdengarlah suara itu.

  “annyeong.. sun-a...!!”

  “annyeong haseyo onnie...!!, onnie sedang apa...?”

  “onnie sedang berada di luar rumah.. di butiq.. mengingat 2 hari pertunangan itu.. maka
onnie harus mempersiapkan sebaik mungkin..”

  “ne.. betul sekali.. aku sudah tak sabar menanti hari itu tiba.. besok siang aku akan tiba di seoul onnie”

  “ne.. onnie akan menjemputmu di bandara, yaa... dongsaeng-a...!, apa kau sudah mempersiapkan kado buat onniemu ini?” pertanyaan yoona seolah membuat he sun tak mampu bicara

  “m...mwooo...!?”

  “hei... ada apa dongsaeng..? kenapa kau sangat terkejut seperti itu?, onnie hanya
menanyakan kado.. bukan apa-apa..”

  “heeee.......mian onnie...!”

  “jangan katakan kau belum mempersiapkannya?”

  “aku sudah berencana onn, tapi kado itu sangat sulit untuk didapat.. mungkin aku tak bisa memberi onnie kado di hari bahagiamu onn..!, soseongheyo!”

  “we... apa yang kau katakan?, kado terindahku adalah.. melihat kau bisa hadir di hari bahagia onnie.. onnie tak mengharapkan kado apa-apa.. kecuali kamu saeng-a...!” tutur yoona melegakan hati hye sun

  “ne.. gomawo onnie-a...!!”

  “araseo... jaga kesehatanmu.. supaya di hari itu kau tak sakit.., ne...?”

  “ne..!, annyeong onnie... saranghae...!”

  “saranghae dongsaeng-a...!”

Telpon terputus..


Keesokan harinya
Tepat di bandara Narita Airport, minsun dan beberapa gerombolan dari KDS Entertaiment.. akan segera kembali ke korea, 2 minggu mereka sudah menjajaki kaki di negri sakura untuk pembuatan film drama Love in tokyo, tentu berjalan dengan mulus. Minsun terlihat sibuk dengan bawaan mereka, terutama hye sun.. mino hendak mengambil koper yang tengah dipegang hye sun

  “kemarikan kopermu itu..!”

  “mwo?, aniyo..!”

  “kau..!!”

  “sudah jangan pedulikan aku..”

  “kau pikir aku akan membuang kopermu?”

  “siapa yang berpikir seperti itu, tapi sudahlah.. jangan terlalu melihatkan pedulimu di depan orang banyak” tutur hye sun sambil sedikit berbisik

  “we?”

  “apa kata orang jika melihat ini?”

  “yaaa.. aku tak peduli”

  “sudahlah.. buang sifat kekanakan itu” mino menyerah mendengar ucapan hye sun.
Namun tiba-tiba darimana datangnya perempuan berambut pirang itu.

  “mino-a..!!”

  “ya.. jessica-a!?”


  “kenapa..?, kau nampak sangat terkejut?, aku hanya mau mengucapkan terima kasih untuk kerjasamanya..!”

  “ne.. chonmaneyo.. itu tak menguntungkan dari pihakmu saja kan?, aku juga merasa beruntung”

  “benar sekali.. sesampai di korea.. apa kesibukanmu nanti?”

  “entahlah..?, mungkin akan istirahat sebentar”

  “hmm..”
Mino dan jessica terlalu keasyikan bicara sampai-sampai melupakan hye sun, namun itu tak berlangsung lama ketika kehadiran ji hoon

  “hai sun-a!”

  “ji hoon-ssi..!”

  “lama kita tak bicara ya..?, semenjak terakhir bertemu..”

  “benar sekali.. aku tak pernah melihatmu beberapa hari ini..?”

  “ne.. appa memintaku untuk mengurusi sesuatu di hokaido, tapi untung saja bisa selesai tepat waktu dan bisa pulang bersama kalian ke korea”

  “oh..” jawab hye sun singkat

  “sun-a.. sesampai di korea nanti.. apa aku bisa tahu kau tinggal dimana?”

*Pertanyaan apa itu.. tanpa basa basi ji hoon menanyakan alamat rumah hye sun, mau pedekate ya?*


  “mwo?”

  “ahk.. jika kau keberatan juga tak apa..”
Mino melihat obrolan antara hye sun dan ji hoon, berusaha ikut dalam pembicaraan itu

  “ya.. apa yang kalian bicarakan?”

  “tak ada..” jawab hyesun singkat
Di tengah asyiknya obrolan itu, tiba-tiba suara receptionis menggema di ruangan besar itu, mengumumkan bahwa penumpang menuju bandara Incheon International Airport  sebentar lagi akan lepas landas.. 
Minsun dan rombongan langsung menuju pesawat dan mengambil tempat duduk yang telah dipersiapkan..

Beberapa menit berlalu..
Pesawat itu kini sudah mendarat di bandara Incheon International Airport. Hye sun nampak celingak celinguk, mencari seseorang di tengah puluh-puluhan orang, dan akhirnya Terlihat 2 orang tengah melambaikan tangannya pada hye sun.


  “SUN-A...!!!”

  “ONNIE...!!”

Melihat yoona yang sudah menanti kepulangannya, hye sun langsung behambur ke pelukan yoona

  “onnie.. pogoshippo...!!”

  “ne.. onnie juga sangat merindukanmu saeng-a..!”

  “bagaimana di sana?” tanya yoona dan hyun joo hampir bersamaan, seolah tak memberikan hye sun kesempatan untuk berbicara

  “yaaa... sangat menyenangkan onnie, oppa”

  “tentu saja.. karena kau pergi bersamaku” cetus mino tiba-tiba dari belakang

  “yaa... kau selalu merasa ke-GR-an, siapa saja pasti senang bisa menikmati negri sakura.. bukan karena aku pergi bersamamu..”

  “aissshhh... masih tak mengakui juga?”

  “sudahlah.. saeng-a.. kalian tak berubah sama sekali.. masih sering bertengkar saja..”

  “apanya yang berubah?, tak ada yang berubah diantara kami...!!, araseo!”[hye sun]

  “ne.. arasseo.. onnie sangat mengerti siapa kalian..!, tapi apakah selama di jepang.. kalian juga seperti ini...?”

  “mwo..?”[hye sun]

  “aniyo noona-a..” jawab mino sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya

  “maksudmu?”

  “hahahahaha..... dia berubah 180 derajat disana...”

  “mwo..?, berubah 180 derajat?”

  “ne..”

  “yaa... mino-a... tutup mulutmu...!” hye sun membekap mulut mino, takut mino mengatakan sesuatu yang akan membuatnya hebat di depan yoona dan hyun joo.

Di pikirannya saat mino mengatakan itu adalah, ketikan moment terakhirnya di jepang bersama mino, sungguh sangat memalukan jika mengingat kejadian kemarin. Itu pertama kalinya ia yang berinisiatif memulainya. Karena jujur saja.. ia memang terpancing dengan kata-kata mino. Dan itu juga bukan merupakan suatu hal yang memberatkannya. Lakukan apa yang ingin kau lakukan *Be What You Can Be*

  “ya sudah.. kalian tak perlu seperti itu, onnie tak akan menanyakan lagi apa yang telah terjadi selama di jepang sana.. onnie yakin itu adalah sesuatu yang bisa membuat kalian jadi lebih dekat” mendengar ucapan onnienya hye sun hanya bisa menampilakn wajahnya yang putih berubah menjadi merah tomat.


Rasanya mino ingin segera kembali ke rumahnya, bila perlu ke rumah orang tuanya.. entah kenapa ia tiba-tiba rindu dengan appa dan ommanya, tentu saja rindu dengan dongsaengnya juga..

Mino adalah seorang aktor yang masih memiliki keluarga yang lengkap, ada appa, omma dan seorang dongsaeng. Dongsaengnya kini tengah kuliah semester 4. satu tingkat dibawah hye sun. Meskipun umurnya kini 20, tapi ia masih terlihat imut, dan sangat manja.. beda dengan mino.. yang bawaannya cuek, mandiri, dan tenang..

*digaris bawahi.. kecuali sama hye sun ya...*

Tapi karena sifat mandirinya atau bisa dikatakan ia tipe orang yang tak mau diatur, makanya dia memutuskan untuk membeli rumah dengan hasil keringat sendiri, meskipun rumah yang kini ia tempati sangat sederhana, tapi itu adalah tempat yang sangat tenang.. jauh dari kebisingan kota, jauh dari pantauan wartawan, jauh dari gilaan fans-fans. Dan itu cukup menjadi modal mino bisa betah di rumah sederhananya.


  “sun-a.. bisakah kau menemaniku ke suatu tempat?” pinta mino tiba-tiba

  “mwo..?, kau sudah gila ya..?, kita baru saja sampai, aku masih ingin melepas rindu dengan onnie..”

  “sebentar saja..” pinta mino

  “aniyo.. kau pergi saja sendiri,..” jawab hye sun dengan cuek bebeknya
Mino memasang tampang memelas, dan tentu saja menggoyahkan yoona.

  “pergilah sun-a.. sepertinya mino memang memerlukan teman untuk pergi”

  “yaa... onnie... kau ini apa-apan sich..?, jangan terpancing dengan wajah memelasnya, aku saja sering kena tipu”

  “mwo.. aiiissshhh....... kau pikir aku senang menipu..?”

  “ne.. dan kau berhasil menipuku kemarin”

  “onje..?” tanya mino tak tahu

  “sudahlah.. kau sangat mengganggu... pergi saja jika kau mau pergi..”

Hyun joo yang dari tadi hanya bisa diam, kini membuka mulutnya.

  “sun-a.. aku pikir kali ini kau turuti saja kemauan mino, karena  sepertinya ia sungguh-sungguh ingin pergi” kata-kata hyun joo sangat memantapkan hati hye sun untuk menuruti kemauan mino.

  “oppa...” terdiam sejenak

  “ne.. ne... araseo.. kalian sungguh tak merindukanku, padahal aku baru sampai..”

  “ya.. kau tak usah berkata seperti itu.. oppa dan onnie sangat menantikan kepulanganmu,

tapi...”

  “araseo...” jawab hye sun dengan sangat terpaksa, kemudian diliriknya mino yang berdiri disampingnya.. rasanya ia ingin mencubit lengan mino, atau menjitak kepalanya.. tapi itu juga tak akan membuat mino menyerah.

  “apa kau akan berdiam terus disitu..?” tutur hye sun sambil melangkahkan kakinya agak sedikit berlalu

  “aniyo..” jawab mino agak sedikit berteriak.. berlari mendekati hye sun dan membawanya pergi menuju suatu tempat.


Bersambung...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar